-taken from 'Be The One' song by The Ting Tings-
...and I don't wanna be the one
Only overjoyed
I don't wanna be the one
Makin' all the noise
So make sure you're thinkin it through
You've let me down again
Dedi Kristian
-taken from 'Be The One' song by The Ting Tings-
...and I don't wanna be the one
Only overjoyed
I don't wanna be the one
Makin' all the noise
So make sure you're thinkin it through
You've let me down again
...
...
???
Pintu sepi
Dinding Sepi
Remote dan Tv Sepi
Layar 14”dan keyboardnya sepi
Kursi sepi
Lihat keluar jendela.
Sepi
Aroma sesudah hujan
Langit bercangkang kapas putih yang disebut awan
Banyak orang tapi sepi
Dia telah pergi
Akupun memunggungi
Cari eksplanasi
Atau inspirasi saja
Atau kegilaan sementara
Hancurkan sedikit kebiasaan lama
Ahli agama bilang kita tak sendiri
Sang raja juga bilang hal yang sama
Tapi ini…
Sepi
Tapi
Apalah
Terserah
Aku hanya butuh
Tingkat kesadaran yang kembali
Untuk kendali
Untuk diri
Renon, 8.50 Am
27 Oct 2008
808s & Heartbreak
Kemarin (11 Oct), adalah hari yang saya juluki sebagai hari “808’s & Heartbreak”. What a day.
Anda yang banyak mengikuti perkembangan lagu dan seniman komersil musik dunia mungkin pernah mendengar rangkaian frase ini. Ya, ini saya ambil dari album Kanye West selanjutnya yang akan release sometime soon by the end of this year, dengan judul “808’s & Heartbreak”
Let’s break it down jadi 2 kata:
808, dan
HEARTBREAK
Kita mulai dari 808.
Ini sebenernya nama sebuah alat, yang digunakan di jaman 80-an untuk merangkai beat2 dalam musik. Umumnya pada saat itu adalah musik Rap / Hip Hop. So ini adalah simbol kecintaan saya pada seni uban bernama Hip Hop. Hari kemarin saya mengalami metamorfosa, seperti kata The Beatles : “The Love You Give Will Return To You”, or something like that lah. I got love for some subculture called “Hip Hop”, dan kemarin saya merasa mendapat feedback yang positif dari apa yang saya pernah lakukan for that love. Saya merasa sub-budaya ini melakukan hal positif untuk saya jaman dahulu, dan saya berkeinginan untuk membalas sub-budaya itu dengan berbuat sesuatu. Like balas budi for instance, dengan cara membangun sebuah komunitas, yang disebut dengan “Bali Hip Hop Community”, yang sudah ada di kepala saya selama 2 tahun lalu, tapi baru berjalan pertengahan 2008 ini.
So I built and gather some friends with the same vision. Karena hal ini adalah kegiatan non-profit, jadi saya pertamanya sedikit ragu. “
Ada sedikit perselisihan paham antara kubu, individu, dan idealisme, tapi dengan mediasi komunitas ini, dengan beberapa pertemuan yang ditengahi kopi dan suasana santai, semua itu sedikit demi sedikit terlalui dan jalinan komniksi membaik, dan alhasil, komunitas ini terbentuk, dengan banyak upaya swadaya dari saya, dan beberapa teman2 baik lainnya. Capek emang, tapi we did it for the love.
But the love is giving its favor back malam kemarin. Saat berusaha untuk socialize tadi malam (maklum, saya akhir2 ini agak ‘anti-social’ karena sok sibuk, so I’m trying to relate more skg). Bertemu dengan beberapa teman sekomunitas dan sepaham, tak dinyana mereka sungguh on fire, dan melakukan aktivitas suportif untuk mengembangkan komunitas ini. Mulai dari membuka akses dengan pihak venue untuk dijadikan tempat aktivitas komunitas, mencetak sticker dengan biaya sendiri, merekrut penggemar baru, berbicara dengan berapi-api bagaimana perjuangan seni itu mengalami kepahitan, naik-turun, sampai sekarang mereka memiliki peghasilan tetap dari Hip Hop. I mean for me... It’s like whuo. I like this. God is so good. He reigns us this art for a way of living. A.m.a.z.i.n.g.
Lalu ada beberapa dukungan lainnya, dari salah satu produser kelas internasional yang ngobrol2 dengan saya ketika berada di satu tempat beach front club paling happening di
But well, dengan semua itu, saya sedikit overwhelm, masih mencoba untuk menyerap, dan menyatakan diri bagaimana harus bersikap. Mudahan saya dan kawan2 bisa menyikapi ini dengan baik. Yang jelas, saya merasa senag sekali denga semua keadaan, semua pernyataan dukungan, semua dukungan yang sudh teralisasi, semua otak yang telah saya pengaruhi untuk (lebih) mencintai seni urban ini, semua individu2 baik yang saya temui malam itu, It was a 808 moment in my life. Yes. 808 moment saya define aja jadi = Beautiful Hip Hop occurrence. Terima kasih Tuhan.
Ok, sekarang kita bahas bagian HEARTBREAK
Whew, kok agak ragu ya memulai nulis ini, tapi what the heck-lah. I have to let it go by spreading out the words anw. It’s like a morning attack in your toilet. Let it go to refresh.
Intinya, kemarin, saya sempet telefon teman wanita yang sempat dekat (dulu), dan all of a sudden banyak informasi perubahan dalam dirinya. Entah belum ada pemberesan tuntas dalam hati or emang masih proses, sepertinya saya merasa masih merasa sedikit memiliki si dia. Jadi perubahan2 yang ada pada dirinya itu saya anggap sebagai hal yang aneh. Dan intinya, she’s not within reach is the thing I felt bad on. Sempet share dengan teman, and he said “You have a so much better condition than her. Why bother to feel bad? Does she know that you changed too?”.
Ow. Setelah menulis perkataan teman saya itu saya baru ngerti maksud dia (waktu pas dengerin masih ngga terlalu ngeh karena terpecah konsen menyetir mungkin). I was in the lack of confidence. Which I should look around and see what I got, not what I’m loosing.
You know what, menulis hal ini seperti pencerahan diri ternyata, I feel better currently, by just pouring it out in this .doc form. So I might over-defining by saying it’s a heartbreak. Because it was not a heartbreak. It’s a part of my spiritual journey.
Time to rise up.
So anyone of you yang lagi missing something / someone yang was a part of your life,
SEE OTHER PARTS that you might ignore once (family, friends, hobby, personal obsession, etc)
How great Thou Art,
Daddy O
Oh well, ijinkan saya mengatakan kalau inilah pertanyaan terbesar dalam hidup seseorang, entah kita pernah mengatakannya dalam hati, melontarkan pertanyaan verbal ini kepada pihak lain, atau semua kegiatan, aktivitas dalam hidupnya mencerminkan pencarian tiada akhir tentang kenapa saya ada di dunia ini, di dalam tubuh ini, kenapa saya lahir dalam keluarga ini, kenapa saya pintar dalam sesuatu, kenapa saya terlihat bodoh dalam beberapa hal, kenapa saya ingin seperti mereka yang sukses, dsb isi sendiri ‘the bla bla bla’ setelah itu.
Saya pernah membaca sebuah interview dengan actor idola; Denzel Washington. Menjawab pertanyaan :
‘Menurut anda, apa kekurangan anda sebagai serang aktor?’
He answers:
“Saya tidak pernah menilai diri sendiri. Terserah para penonton, mau meniilai akting saya seperti apa. Kalau Saya sih, sederhana saja, BERUPAYA MELANJUTKAN PERJALANAN SPIRITUAL SAYA.”
Bukannya saya terkaburkan dengan figur yang sudah saya kagumi sebelumnya, jadi kata2 apapun yang dicapkan orang itu pasti merema dalam saya, but hey, barisan frase inspiratif itu saya pikir adalah sesuatu yang bisa jadi cermin buat siapa saja secara mudah. Berbicara mudah, mari bagi ‘barisan frase inspiratif’ itu kedalam 2 elemen saja:
Pertama, “BERUPAYA MELANJUTKAN”
Bisakah anda dig down sedikit secara analisa logika yang sederhana saja. Jika seseorang menyebutkan ‘melanjutkan’, berarti ada variabel yang pernah ada sebelumnya, dan kata ‘berusaha’ mengungkapkan aktivitas untuk mempertahankan variable tersebut tetap dalam kondisi baik, atau minimal keeping it running.
Kedua “PERJALANAN SPIRITUAL SAYA”
See, I’m not good a any spiritual meanings and applications, I’m not a very religious person myself (I don’t believe in religion, saya lebih suka ‘relationship with God’ yang akan dibantu oleh cangkang yang disebut agama) tapi minimal saya tahu kalau pergerakkan emosionil, dan tubuh, itu berasal dari karakter / keadaan spiritual pada saat itu.
Kalau diurai lagi, keadaan spiritual ini tentu akan mengalami beberapa perubahan sepanjang perjalanan. Sebut saja sebuah perjalanan anda dengan mobil yang anda setir sendiri. Perjalanan mobil ini tentu memiliki urutan seperti ini kurang lebih dengan perbandinganya dengan perjalanan spiritual:
Momen ketika anda masuk ke mobil = ketika anda masuk kedalam rahim Ibu anda tercinta.
Momen ketika anda menyalakan starter mobil = ketika anda sudah lahir, mulai bisa melakukan kegiatan motorik seperti berteriak, berkomentar, menangis, diam, tertarik, dll. Mesin anda hidup. Anda dalam tahap kendali hidup tingkat dasar.
Momen waktu anda memanaskan mobil = Waktu anda belajar di sekolah, maksimalisasikan semua fungsi anda sebagai manusia berhikmat, sama seperti oli mobil yang perlu mengalir, bensin yang memerlukan waktu pembakaran. Ketika mesin sudah hidup, maka perlu waktu lagi untuk menaikkan daya tahan untuk perjalanan yang jauh. So anda sudah sekolah,menjadi lebih pintar, menemukan hobi, bergaul, pernah berantem dengan teman / orangtua / saudara, pernah gagal, pernah sombong karena berhasil, skill tertampung, dll, itu panas, tapi dari semua temperature yang panas itu anda siap untuk perjalanan yang jauh.
Momen anda memasukkan gigi satu = oh yeah, time for good plan of your life, ada yang ngga berrencana sama sekali, tapi minimal banyak orang sudah mengerti ketertarikkan mereka, contohnya orang yang suka logika memilih untuk menjadi arsitek, dokter, akuntan, pegawai bank. Yang suka seni akan buat lagu, lukisan, fotografi. Yang suka komunikasi akan memilih untuk bercita2 menjadi seorang PR, Penyiar, GRO, dll. Gigi satu sudah masuk, sebentar lagi kita tekan gas…..
Momen menekan gas kedalam, mobil mulai berjalan = Setelah bertahun2 belajar dan belajar, saatnya untuk praktikum, pegang kendali. Anda mulai bekerja, mulai cari duit, mulai cari pacar, mulai hidup teratur, mulai membeli barang yang berkarakter ‘gue banget’, mulai berpikir kalau saya berbeda degan yang lain, ‘sepertinya saya mengenali diri saya…’
Momen masuk gigi dua = ‘Hey, seru juga ya, sepertinya saya suka hidup ini,’ beberapa hal mulai terlihat lebih mudah, karena anda sudah berpengalaman setelah melewati proses mulai ini, mulai itu, dll. Saat ini waktu yang tepat untuk ‘menyalip’ mobil lain.
Momen pindah gigi tiga ‘Mobil didepan lamban amat, gue salip aja ah’= Ketika anda melihat rekan lain mengalami perlambatan, bisa saja anda menyalip rekan anda itu karena anda punya kecepatan yang konstan, you keep going no matter what.
Momen gigi empat = mulai laju, tenang, namun resiko kcelakaan lebih tinggi, and if accidents really happened, the damage will have more portion. Mulai mengambil resiko memulai bisnis baru, karir baru, blab la bla, banyak berhasil, ada yang gagal.
Momen gigi
Momen Berhenti = lah? Ko enak2 gigi
Momen MEMULAI KEMBALI gigi satu, dua, tiga dan seterusnya… = you know what i mean, right? Menempuh hidup baru, di mobil (hidup) anda sudah ada pendamping, tidak mustahil nanti berhenti lagi setelah ada momongan, dll)
Momen anda keluar dari mobil = sudah sampai mana ini ya? Hah? Waktu sudah habis! (Death separate you from anything in this world).
Panjang memang, tapi seberapapun waktu yang saya habiskan untuk menulis ini, seberapapun waktu yang anda habiska untuk membaca tulisan ini, tak sepanjang hidup seseorang, tak sepanjang perjalanan ‘the so-called 70 years of age’ yang manusia modern punya.
My word is, kalo kita sekarang dalam kesenangan, tekanan dll, coba kasi diri anda kesempatan untuk melihat, perjalanan spiritual anda sudah sampai mana? Meski tidak harus sesuai dengan urutan diatas, tapi yang paling penting adalah KESADARAN posisi kita sekarang. Bukan dikejar deadline, sibuk ngejar target, ingin pegakuan dari orang ain yang lebih besar.
Saya adalah saya, Anda adalah anda, kita punya pemikiran, pencapaian, dan ukuran yang berbeda.
..:::KNOW YOURSELF:::..
Happy weekend, y’all…
Daddy-O